Aspirasi Purbalingga-Komunitas Historia Perwira kembali menggelar diskusi sejarah. Kali ini mengusung format "Bedah Buku" dengan mengangkat karya seorang serdadu Belanda berjudul _'De Hinderlaag bij Sindoeradja: Militaire Acties op Java, 1948-1950'_ atau 'Penyergapan di Sinduraja'
Diskusi berlangsung di Kedai Pojok Taman Kota, Jumat malam, 21 Agustus 2026, dan dihadiri puluhan peserta hingga tengah malam.
Buku tersebut ditulis oleh Luitenant Hans Gerritsen, seorang Letnan Belanda yang pernah bertugas di Purbalingga pada masa Agresi Militer II. Sinduraja yang disebut dalam buku itu kini dikenal sebagai Desa Sinduraja, Kecamatan Kaligondang.
"Ini literatur penting untuk kesejarahan Purbalingga. Selain bercerita tentang tugas militernya, Letnan Hans juga menulis tentang kehidupan sehari-hari _Wong Braling_," ujar Gunanto Eko Saputro, Founder Historia Perwira yang juga menjadi pemantik diskusi.
Dalam pemaparannya, Gunanto menyebut buku itu tidak hanya berisi narasi pertempuran. Letnan Gerritsen juga mencatat detail budaya, tradisi, cara berpakaian, hingga mitos dan legenda yang dipercaya masyarakat Purbalingga pada 1940-an.
Ada pula kisah tentang para jongos, kuli, dan babu yang bekerja untuk tentara Belanda. Termasuk keberadaan _'Landa Ireng'_ - sebutan untuk pribumi yang menjadi mata-mata bagi Belanda. Yang menarik, Letnan Hans juga menuangkan kekagumannya terhadap keindahan alam Purbalingga yang ia sebut "bagaikan surga".
"Buku ini tidak hanya menceritakan peristiwa Rabu, 30 Maret 1949, saat satu peleton pasukannya disergap di Sindoeradja. Lebih dari itu, Gerritsen mencatat wajah Purbalingga pada masa itu. Padahal kita sendiri hampir tidak punya arsip sejarah selengkap ini," imbuh Gunanto.
Achmad Sirojudin dari Dinas Arsip dan Perpustakaan Purbalingga menyambut baik diskusi tersebut. Ia menilai buku itu sangat perlu diterjemahkan dan diterbitkan agar menambah khazanah referensi sejarah daerah.
"Isinya banyak memvalidasi cerita para sesepuh kami tentang Perang Kemerdekaan," kata Afit Susanto, pemantik diskusi lainnya.
Senada, aktivis muda Purbalingga, Kisnandi Bayu, menyoroti minimnya arsip sejarah lokal. "Justru kita banyak mendapat wawasan dari arsip-arsip Belanda, meskipun tentu saja dari sudut pandang mereka," ujarnya.
Bayu berharap diskusi ini tidak berhenti di acara. Ia mendorong adanya tindak lanjut nyata berupa penerjemahan, penerbitan buku, hingga kajian lanjutan.
Diskusi berlangsung gayeng dan interaktif, menandakan tingginya antusiasme masyarakat Purbalingga terhadap sejarah daerahnya sendiri.(Ganesha)


0 Komentar