Aspirasi Purbalingga - Pemerintah Kabupaten Purbalingga resmi meluncurkan Program I-SEE (Inclusive System for Effective Eye Care) untuk memperkuat deteksi dini dan layanan kesehatan mata yang inklusif di Operational Room Graha Adiguna, Kompleks Kantor Bupati Purbalingga, Kamis (27/8/2026). Program tersebut merupakan kerjasama antara Pemkab Purbalingga dengan Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) serta CBM Global Disability Inclusion yang didukung pendanaan oleh Australian Aid.
Direktur YSKK Iwan Setiyoko mengatakan, Kabupaten Purbalingga menjadi salah satu dari tiga kabupaten, yakni Wonosobo dan Banjarnegara yang dipilih sebagai pilot project deteksi dini dan layanan kesehatan mata yang iklusif di Jawa Tengah untuk periode 2026–2031.
"Di Jawa Tengah, Kabupaten Purbalinga, Banjarnegara dan Wonosobo dipilih sebagai lokasi pelaksanaan program didasarkan pada hasil asesmen YSKK di Jawa Tengah pada tahun 2025," katanya.
Menutnya, pemilihan kepada 3 daerah sebagai lokasi program tersebut dilandasi pada dua hal utama. Pertama, berbasis kebutuhan di mana kasus gangguan penglihatan di ketiga daerah tersebut terkategori tinggi. Sebagaimana di Kabupaten Purbalingga, tercatat sepanjang tahun 2025 ada 338 kasus operasi katarak.
“Artinya, di daerah tersebut rata-rata ada 30 hingga 40 kasus ditangani setiap bulan," ujarnya.
Faktor kedua yang tidak kalah penting sebagai pendukung jalanya program peluncuran I-SEE adalah komitmen dari pemerintah daerah setempat, komitmen tersebut menjadi kunci utama dalam menjamin keberlanjutan program setelah periode pendampingan selesai.
Berfokus pada kelompok rentan seperti penyandang disabilitas, lansia, masyarakat pedesaan, serta anak-anak usia sekolah.
Didampingi Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintahan dan Kemasyarakatan Tri Gunawan Setiadi, serta Sekretaris Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DinkesPPKB) Purbalingga Teguh Wibowom, Iwan Setiyoko juga menyampaikan program I-SEE berfokus pada masyaraka kelompok rentan, seperti lansia, masyarakat pedesaan, anak-anak usia sekolah, dan penyandag disabilitas.
"Dari 338 kasus katarak di Purbalingga, sekitar 50 persen penderita awalnya tidak menyadari bahwa mereka mengidap katarak, akibatnya, kondisi penglihatan memburuk dan terlambat mendapatkan penanganan medis.Oleh karena itu, Program I-SEE menekankan pada upaya promosi kesehatan, pencegahan (preventif), dan deteksi dini," terangnya.
Untuk mendukung keberhasilan program, YSKK bersama Pemkab Purbalingga telah menyusun langkah strategis, diantaranya memperkuat kapasitas Puskesmas melalui pelatihan tenaga kesehatan (nakes), pembenahan tata kelola puskesmas agar lebih inklusif, serta dukungan sarana dan prasarana yang sesuai kebutuhan, baik di tingkat puskesmas maupun rumah sakit, kemudian menjangkau kader kesehatan desa dan tenaga pendidik.
"Implementasi tahap awal akan dimulai pada September mendatang, yakni seluruh puskesmas di Kabupaten Purbalingga akan mendapatkan pelatihan teknis” katanya.
Selain itu, akan dilakukan pelatihan deteksi dini terhadap guru SD, SMP, dan SLB agar mampu melakukan deteksi dini gangguan penglihatan pada peserta didik di sekolah. Di tingkat desa, pada setiap desa dibutuhkan sebanyak empat orang kader kesehtan akan dilakukan pembekalan tentang kemampuan untuk melakukan deteksi dini kesehatan mata di masing-masing desa setempat.
Terkait kesehatan mata, Iwan menambahkan bahwa kesehatan penglihatan sangat krusial bagi masyarakat, karena hal tersebut berdampak langsung pada produktivitas, kesejahteraan ekonomi, dan kualitas relasi sosial masyarakat.
“Gangguan pengelihatan bkan hanya masalah kesehatan mata, tetapi juga berkaitan dengan pendidikan, produktivitas ekonomi, partisipasi sosial, dan kwalitas hidup,” imbuhnya.(Amir)



0 Komentar